Kamis, 05 November 2009

PROFIL KABUPATEN LANGKAT, SUMATERA UTARA

A. SEJARAH KABUPATEN LANGKAT
Kabupaten Langkat yang dikenal sekarang ini mempunyai sejarah yang cukup panjang. Kabupaten Langkat sebelumnya adalah sebuah kerajaan di mana wilayahnya terbentang antara aliran Sungai Seruwai atau daerah Tamiang sampai ke daerah aliran anak Sungai Wampu. Terdapat sebuah sungai lainnya di antara kedua sungai ini yaitu Sungai Batang Serangan yang merupakan jalur pusat kegiatan nelayan dan perdagangan penduduk setempat dengan luar negeri terutama ke Penang/Malaysia. Sungai Batang Serangan ketika bertemu dengan Sungai Wampu, namanya kemudian menjadi Sungai Langkat. Kedua sungai tersebut masing-masing bermuara di Kuala langkat dan Tapak Kuda. 
Adapun kata “Langkat” yang kemudian menjadi nama daerah ini berasal dari nama sejenis pohon yang dikenal oleh penduduk Melayu setempat dengan sebutan “pohon langkat”. Dahulu kala pohon langkat banyak tumbuh di sekitar Sungai Langkat tersebut. Jenis pohon ini sekarang sudah langka dan hanya dijumpai di hutan-hutan pedalaman daerah Langkat. Pohon ini menyerupai pohon langsat, tetapi rasa buahnya pahit dan kelat. Oleh karena pusat kerajaan Langkat berada di sekitar Sungai Langkat, maka kerajaan ini akhirnya populer dengan nama Kerajaan Langkat. 
Tentang asal mula Kerajaan Langkat berdasarkan tambo Langkat mengatakan bahwa nama leluhur dinasti Langkat yang terjauh diketahui ialah Dewa Syahdan yang hidup kira-kira tahun 1500 sampai 1580. 
Dewa syahdan digantikan oleh puteranya, Dewa Sakti yang memerintah kira-kira tahun 1580 sampai 1612. Dewa Sakti selanjutnya digantikan oleh Sultan Abdullah yang lebih dikenal dengan nama Marhum Guri. Selanjutnya tambo Langkat mengatakan bahwa yang menggantikan Marhum Guri adalah puteranya Raja Kahar (± 1673). 
Raja Kahar adalah pendiri Kerajaan Langkat dan berzetel di Kota Dalam, daerah antara Stabat dengan Kampung Inai kira-kira pertengahan abad ke-18. Berpedoman kepada tradisi dan kebiasaan masyarakat Melayu Langkat, maka dapatlah ditetapkan kapan Raja Kahar mendirikan Kota Dalam yang merupakan cikal bakal Kerajaan Langkat kemudian hari. Setelah menelusuri beberapa sumber dan dilakukan perhitungan, maka Raja Kahar mendirikan kerajaannya bertepatan tanggal 12 Rabiul Awal 1163 H, atau tanggal 17 Januari 1750. Melalui seminar yang berlangsung di Stabat, pada tanggal 20 Juli 1994 atas kerjasama Tim Pemkab Langkat dengan sejumlah pakar dari jurusan sejarah Fakultas Sastra USU, maka dapat menentukan Hari Jadi Kabupaten Langkat yaitu 17 Januari 1750. 
Perkembangan selanjutnya Kota Binjai pernah jadi Ibukota Kabupaten Langkat hingga pada saat ini Kabupaten Langkat beribukota Stabat, dan berdasarkan Perda Nomor 11 tahun 1995 telah ditetapkan Hari Jadi Kabupaten Langkat 17 Januari 1750, dengan Motto : ”Bersatu Sekata Berpadu Berjaya”.
Kabupaten Langkat merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara. Jarak rata-ratanya dari Kota Medan sekitar 60 km ke arah barat laut, dan berbatasan langsung dengan Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Kabupaten Langkat beribukota di Stabat. Wilayah Kabupaten Langkat terdiri dari 23 kecamatan yang tersebar di dalam 3 wilayah yaitu Wilayah I Langkat Hulu*, Wilayah II Langkat Hilir dan Wilayah III Teluk Haru*. 
Kecamatan-kecamatan yang terdapat di Kabupaten Langkat : 
I. Wilayah Langkat Hulu, meliputi :
1. Kuala 
2. Sei Bingai 
3. Salapian 
4. Bahorok 
5. Serapit 
6. Kutambaru 
7. Selesai 
8. Binjai 
II. Wilayah Langkat Hilir, meliputi :
1. Stabat 
2. Wampu 
3. Secanggang 
4. Hinai 
5. Padang Tualang 
6. Batang Serangan 
7. Sawit Seberang 
8. Tanjung Pura 
III. Wilayah III Teluk Haru, meliputi : 
1. Babalan 
2. Gebang 
3. Brandan Barat 
4. Sei Lepan 
5. Pangkalan Susu 
6. Besitang 
7. Pematang Jaya 

* : 7 Kecamatan dalam wilayah ini dalam tahap pemekaran dan akan menjadi Kabupaten baru yang terpisah dengan Kabupaten Langkat, kecuali Kecamatan Binjai.

B. KEADAAN UMUM KABUPATEN LANGKAT
1. Letak Astronomis
Wilayah Kabupaten Langkat terletak pada koordinat 3°14’ - 4°13’ LU dan 97°52’ - 98°45’ BT dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: 
o Sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka dan Propinsi Nangro Aceh Darussalam (NAD) 
o Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Karo 
o Sebelah barat berbatasan dengan Prop. NAD dan Tanah Alas 
o Sebeleh timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kota Binjai.
Luas keseluruhan Kabupaten Langkat adalah 6,263.29 km² atau 626.329 Ha.

2. TOPOGRAFI 
Topografi wilayah Kabupaten Langkat dapat digolongkan atas tiga bagian, yaitu :
a. Wilayah pesisir pantai dengan ketinggian 0 – 4 m di atas permukaan laut.
b. Wilayah dataran rendah dengan ketinggian 4 – 30 m di atas permukaan laut.
c. Wilayah dataran tinggi dengan ketinggian 30 – 1.200 m di atas permukaan laut.
Keadaan kelerengan di daerah ini didominasi kelerengan 0 – 2 % sebesar 59,40 % dari luas Kabupaten Langkat. Kelerengan terkecil adalah kelerengan 15 – 40 % sebesar 6,8 % dari luas lahan.
Daerah ini dialiri oleh 26 sungai besar dan kecil, melalui kecamatan dan desa-desa, diantara sungai-sungai tersebut adalah : Sungai Wampu, Sungai Batang Serangan, Sungai Lepan, Sungai Besitang dan lain-lain. Secara umum sungai-sungai tersebut dimanfaatkan untuk pengairan, perhubungan dan lain-lain.

3. IKLIM
Iklim di wilayah Kabupaten Langkat termasuk tropis dengan indikator iklim sebagai berikut : 
- Musim Kemarau : Februari s/d Agustus 
- Musim Hujan : September s/d Januari 
- Curah hujan rata-rata 2000-3500 mm/tahun. Rata-rata curah hujan per bulan adalah 142,59 mm/bulan dengan rata-rata hari hujan 10 hari per bulan. Rata-rata curah hujan per bulan adalah 142,59 mm/bulan dengan rata-rata hari hu-jan 10 hari per bulan.
- Suhu rata-rata 280 - 300.

4. JENIS TANAH
Berbagai jenis tanah yang terdapat di daerah ini yaitu :
- Sepanjang pantai terdiri dari jenis tanah alluvial, yang sesuai untuk jenis tanaman pertanian pangan. 
- Dataran rendah dengan jenis tanah glei humus rendah, Hydromofil kelabu dan plarosal. 
- Dataran tinggi jenis tanah podsolid berwarna merah kuning.

5. PENGGUNAAN LAHAN
Wilayah kabupaten Langkat digunakan untuk:
- Kawasan hutan lindung seluas ± 266.232 Ha (42,51 %) dan kawasan lahan budidaya seluas ± 360.097 Ha (57,49 %). 
- Kawasan hutan lindung terdiri dari kawasan pelestarian alam Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) seluas ± 213.985 Ha. 
- Kawasan Timur Laut seluas ± 9.520 Ha. 
- Kawasan Penyangga seluas ± 7.600 Ha. 
- Kawasan Hutan Bakau seluas ± 20.200 Ha dan kawasan lainnya ±14.927 Ha.

6. PENDUDUK
Jumlah penduduk di Kabupaten Langkat sekitar 1 juta jiwa lebih. Jumlah penduduk paling besar adalah di Kecamatan Stabat. Penduduk asli Kabupaten Langkat adalah Suku Melayu sedangkan Suku Pendatang ialah Jawa, Karo, Batak (Toba & Simalungun), Mandailing, Minang, Aceh, Tionghoa, Tamil dan lain-lain. Walaupun merupakan Suku Pendatang, Suku Jawa merupakan Suku Mayoritas di Kabupaten Langkat.

Tabel Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
di Kabupaten Langkat Tahun 2006
No Penduduk Jumlah
1
2 Pria
Wanita 282,135 jiwa
268,343 jiwa
 Jumlah 550,478 jiwa
 Kepadatan Penduduk 83.00 per km2

Mata pencarian utama penduduk Kabupaten Langkat adalah sebagai petani dan nelayan. Hasil utama pertanian dan perkebunan yang utama di Kabupaten Langkat adalah padi, jagung, kelapa, karet dan kelapa sawit. 

C. POTENSI KABUPATEN LANGKAT
1. PERKEBUNAN





 Kelapa sawit Kakao

   
 Karet Tebu

  Kabupaten Langkat sangat potensial dalam sektor perkebunan. Komoditi utama nasional dari kabupaten ini yaitu kelapa sawit, kakao, karet dan tebu. Sedangkan komoditi unggulan daerahnya adalah kopi dan kelapa.

Tabel Komoditi Kabupaten Langkat pada Tahun 2006
No Sektor/Komoditi Unggulan/Tidak Hasil (Ton)
1
2
3
4
5
6
7
8 Perkebunan kelapa sawit
Perkebunan kakao
Perkebunan karet
Perkebunan tebu
Perkebunan kopi
Perkebunan kelapa
Perkebunan nilam
Perkebunan tembakau Unggulan
Unggulan
Unggulan
Unggulan
Unggulan
Unggulan
Non Unggulan
Non Unggulan 117,211.00
7,625.00
54,649.00
17,078.00
147.00
3,370.00
1.00
50.00
Sumber Data: 
Statistik Perkebunan Indonesia 2006-2008
Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Jakarta 2007
Komp Deptan Gedung C Lt-III Ruang.307 
Jl. Harsono R.M No. 3 Ps Minggu Jakarta Selatan 12550

Tabel Ketersediaan Lahan Perkebunan
di Kabupaten Langkat Tahun 2006
No Sektor/Komoditi Luas Lahan (Ha)
1
2
3
4
5
6
7
8 Kakao
Karet
Kelapa
Kelapa sawit
Kopi
Nilam
Tebu
Tembakau 6,769
47,228
3,6893,689
41,181
221
83
5,026
149
Sumber Data: 
Statistik Perkebunan Indonesia 2006-2008
Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Jakarta 2007
Komp Deptan Gedung C Lt-III Ruang.307 
Jl. Harsono R.M No. 3 Ps Minggu 
Jakarta Selatan 12550

2. BUAH-BUAHAN
Buah-buahan utama dari kabupaten Langkat, yaitu :
a. Rambutan
Rambutan yang merupakan primadona Langkat dan sudah dikenal sampai ke berbagai propinsi. Buah rambutan Langkat telah menjadi komoditas spesifik Langkat. Luas pertanaman 4.702 Ha dengan produksi 16.591,04 ton. Pola produksi ini menyebabkan harga komoditi ini sangat fluktuatif, sehingga perlu dibuat suatu industri pengolahan buah untuk memproses pada saat produksi puncak tercapai. Buah rambutan berkembang di kecamatan Stabat, Pkl Susu, Pkl Brandan, Selesai, Selapian, Bahorok, Sei Bingei, Kuala.
b. Durian
Durian sebagai salah satu buah unggulan Langkat dengan luas areal 850 Ha dan berproduksi 3.627 ton yang berada di Bahorok, Selapian, Sei Bingei, Padang Tualang, Brandan Barat, Pangkalan Susu, Hinai, Gebang dan Selesai. Melinjo di Kecamatan Hinai, Wampu, Selesai, Brandan Barat, Kuala, Stabat, Padang Tualang.
c. Jeruk manis
Jeruk manis merupakan buah utama di Langkat dengan luas area pertanaman 4.977 Ha dan berproduksi 34.901 ton di Kecamatan Padang Tualang, Besitang, Bahorok. 

Dengan melimpahnya bahan baku buah-buahan serta seiring dengan makin meningkatnya konsumsi buah-buahan maka di masa yang akan datang Kabupaten Langkat memiliki peluang relatif besar bagi pengembangan agroindustri buah-buahan seperti pengalengan buah, pembuatan kripik buah dan pembuatan sirup atau juice buah.

3. PARIWISATA
Objek wisata yang ada di Kabupaten Langkat sangat menjanjikan untuk dijadikan sebagai tempat rekreasi, hiburan, menambah pengetahuan, maupun ziarah (wisata religi). Banyaknya ragam objek wisata yang ada di wilayah ini, tentunya memberikan banyak pilihan kepada wisatawan. Apalagi objek-objek wisata yang tersebar di Kabupaten Langkat tersebut ditunjang oleh sarana transportasi dan akomodasi yang memadai, sehingga wisatawan benar-benar dapat bersantai tanpa khawatir kekurangan fasilitas penunjang pariwisata.
Kabupaten Langkat memiliki potensi wisata alam yang relatif besar. Potensi wisata alam tersebut menyangkut beberapa potensi obyek yaitu air terjun pemandian sungai arung jeram, tracking hutan, gua alam (seperti kawasan bukit Lawang, Gua Batu Rizal, Tangkahan dan wisata bahari (seperti Tanjung Apek Kuala Serapuh dan Tanjung Kerang).
Objek wisata yang terkenal di Kabupaten Langkat ialah Bukit Lawang, Pantai Tapak Kuda, Jaring Halus, Mesjid Azizi, dan masih banyak lagi. Untuk ajang ber-arung jeram, sungai-sungai yang ada di Kabupaten Langkat dapat menjadi pilihan. Misalnya Sungai Batang Serangan dan Hulu Sungai Wampu yang melintasi Kota Stabat.
Salah satu objek wisata yang terkenal yaitu wisata Bukit Lawang. Taman Bukit Lawang terletak di kaki Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dengan udara sejuk oleh hujan tropis, di bukit Lawang ini terdapat lokasi rehabilitasi orang hutan (mawas) yang dikelola oleh WNF Taman Nasional gunung Leuser merupakan asset Nasional terdapat berbagai satwa yang dilindungi seperti: Badak Sumatera, Rusa, Kijang, Burung Kuau, siamang juga terdapat tidak kurang dari 320 jenis burung, 176 binatang menyusui, 194 binatang melata, 52 jenis ampibi serta 3500 jenis species tumbuh-tumbuhan serta yang paling menarik adalah bunga raflesia yang terbesar di dunia. 
Keindahan dan potensi alam yang ada di Kabupaten Langkat ini sudah dikenal di dalam maupun luar negeri. Pengembangan objek wisata sekitarnya yang sangat potensial akan mendorong pengembangan daerah sekitarnya menjadi suatu kawasan agrowisata yang baik.

4. KAWASAN PESISIR TIMUR
Wilayah pesisir timur Sumatera Utara yang memiliki panjang pantai 545 km berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Wilayah yang termasuk wilayah pesisir timur Sumatera Utara adalah Kabupaten langkat yang disebut wilayah up-land yaitu kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang merupakan daerah belakang yang berpengaruh terhadap ekosistem kawasan dibawahnya (kawasan pantai pesisir hingga laut).
Luas wilayah pesisir Kabupaten Langkat meliputi 8 kecamatan yaitu: Kecamatan Stabat (90,64 km), Kecamatan Secanggan (248,73 km), Kecamatan Tanjung Pura (165,78 km), Kecamatan Gebang (16.299 km), Kecamatan Babalan (101,80 km), Kecamatan Brandan Barat (92 km), Kecamatan Besitang (710,48 km), serta Kecamatan Pangkalan Susu (271,31 km).
Potensi lestari (maximum sustainable yield) Pantai Timur Sumatera Utara (Selat Malaka) adalah 263.300 ton/tahun. Pada tahun 1999 produksi perikanan laut kawasan Pantai Timur Sumatera Utara mencapai 254.140,6 ton; berarti masih terdapat peluang sebesar 9.159,4 ton. Luasnya wilayah pesisir membuat kabupaten ini memiliki potensi perikanan yang tinggi sehingga perikanan laut merupakan salah satu sumber pendapatan bagi penduduk yang tinggal di sekitar lokasi tersebut.
Sedangkan hutan mangrove membentang dari pantai utara Kabupaten Langkat ke daerah pantai selatan. Mangrove terluas terdapat di Kabupaten Langkat (35.000 Ha), tetapi sebagian besar berada dalam kondisi rusak.

Dari beberapa potensi di atas, perkebunan menjadi kegiatan ekonomi utama di kabupaten. Pada tahun 2001, perkebunan memberi kontribusi Rp 745,6 miliar dari total kegiatan ekonomi tanpa migas Rp 3,8 triliun. Tempat kedua adalah pertanian tanaman pangan sebesar Rp 646,2 miliar. Setelah itu perikanan senilai Rp 482,8 miliar. Pada tahun 2001 ini terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,25 persen, sementara tahun 2000 hanya 1,54 persen.

D. USAHA UNGGULAN KABUPATEN LANGKAT
• PENGOLAHAN MINYAK GORENG DAN OLEOKIMIA 
Pengolahan minyak goreng dan oleokimia dipilih sebagai bidang usaha yang layak dikembangkan karena di wilayah kabupaten Langkat terdapat banyak kebun dan pabrik pengolahan kelapa sawit dengan hasil akhir berupa Crude Palm Oil (CPO).

• INDUSTRI PENGOLAHAN BUAH BUAHAN 
Banyaknya produksi buah, terutama jeruk dan rambutan, yang bersifat musiman memerlukan suatu penanganan hasil yang tepat, sekaligus bermanfaat bagi petani dan atau produsen buah. Pabrik pengolahan dalam bentuk terpadu, artinya pabrik tersebut mampu mengolah buah berbagai jenis dengan berbagai bentuk produk akan sangat tepat bagi pengembangan ekonomi daerah.

• PENGUSAHAAN IKAN KERAPU 
Ikan kerapu harus dibudidayakan dengan syarat tertentu, terutama kedalaman dan keadaan airnya. Artinya tidak setiap daerah sesuai untuk budidaya ikan kerapu. Pangsa pasar ikan kerapu memiliki segmen pasar tersendiri, terutama ekspor. Pengembangan ikan kerapu akan menambah tingkat kesejahteraan bagi nelayan ikan kerapu dan keluarganya.

• PENGUSAHAAN TAMBAK UDANG WINDU 
Tambak udang merupakan suatu usaha yang memiliki keunikan tersendiri, sehingga memerlukan suatu sentuhan dan manajemen khusus. Modal yang besar dengan resiko yang juga besar sangat sebanding dengan nilai ekonomi yang dapat dihasilkan. Pengembangan udang windu jenis tiger merupakan suatu pilihan yang tepat bagi daerah pesisir Langkat.

• TAMBAK UDANG
Tambak udang merupakan lahan yang cukup menjanjikan sebagai sumber penghasilan. Lokasi tambak udang berada di Kecamatan Secanggang, Tanjung Pura, Gebang, Babalan, Sei Lepan, Pangkalan Susu, dan Besitang. Total luas tambak udang di kabupaten Langkat menurut versi langkat Dalam Angka Tahun 2003 adalah 3.605,4 Ha. Tambak udang hampir seluruh Kecamatan di wilayah Pantai Timur Langkat dengan potensi lahan ± 7000 Ha. Industri pengolahan produk perikanan yang ada baru berupa industri kecil udang beku.

• PETERNAKAN
Budidaya peternakan telah banyak dilakukan oleh masyarakat di kabupaten Langkat. Hal ini dibuktikan dengan besarnya populasi ternak dikabupaten ini. Jumlah populasi kambing pada tahun 2003 adalah 62.896 ekor, domba 46.579 ekor, sapi 48.320 ekor, kerbau 8.135 ekor. Populasi ayam petelur 1.570.812 ekor, ayam pedaging 4.499.100 ekor, ayam kampung 574.796 ekor.

• INDUSTRI DAN PERTAMBANGAN 
Daerah Kabupaten Langkat adalah satu-satunya di Sumatera Utara yang mempunyai tambang minyak dan gas bumi yang dikelola oleh Pertamina dan berada di kota Pangkalan Brandan. Kilang gas alam telah beroperasi sejak tahun 1965, memproduksi gas elpiji (bahan bakar memasak pada kompor gas) sebanyak 280 ton per hari, kondensat 105 ton per hari, dan beberapa jenis gas dan minyak lainnya. Hasil dari sumur migas ini cukup memberi tambahan kas penerimaan anggaran pendapatan dan belanja daerah Kabupaten Langkat.
Selain itu, banyak bahan-bahan tambang yang belum dikelola seperti Coal, Tras, Gamping Stone, Pasir Kwarsa.
Disamping pertambangan minyak di Kabupaten Langkat juga terdapat pabrik pengolahan tebu dengan produk akhir gula pasir yang diproduksi oleh Pabrik Gula Kwala Madu milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX. Keterbatasan pabrik pengolahan memang membuat komoditas perkebunan dan pertanian Langkat kurang memiliki nilai tambah.

DAFTAR PUSTAKA

www.langkatkab.go.id

http://www.pu.go.id/publik/ind/produk/info_statistik/infosta/air/geo.asp?kdprop=12&kdkab=13&kdkec=010&tx=cr 

http://regionalinvestment.com/sipid/id/geografislj.php?ia=1213

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More