Kamis, 05 November 2009

GEOLOGI PULAU JAWA

PULAU JAWA
Pada awal Paleogen Sumatera, Kalimantan dan Jawa masih merupakan satu daratan dengan Benua Asia yang disebut tanah Sunda. Pada Eosen pulau Jawa yang semula berupa daratan, bagian utaranya tergenang oleh air laut dan membentuk cekungan geosinklin. Sedangkan bagian selatan pulau Jawa terangkat dan membentuk geantiklin yang disebut geantiklin Jawa Tenggara.
Pada kala Oligosen hampir seluruh pulau jawa terangkat menjadi geantiklin yang disebut geantiklin Jawa. Pada saat ini muncul beberapa gunung api di bagian selatan pulau ini.
Pulau Jawa yang semula merupakan geantiklin berangsur-angsur mengalami penurunan lagi sehingga pada Miosen bawah terjadi genang laut. Gunung api yang bermunculan di bagian selatan membentuk pulau-pulau gunung api. Pada pulau-pulau tersebut terdapat endapan breksi vulkanik dan endapan-endapan laut. Semakin jauh dari pantai terbentuk endapan gamping koral dan gamping foraminifera.
Pada Miosen tengah di sepanjang selatan pulau Jawa pembentukan gamping koral terus berkembang diselingi batuan vulkanik. Kemudian pada Miosen atas terjadi pengangkatan pada seluruh lengkung Sunda-Bali dan bagian selatan Jawa. Keberadaan pegunungan selatan Jawa ini tetap bertahan sampai sekarang dengan batuan penyusun yang didominasi oleh batuan kapur yang dibeberapa tempat diselingi oleh munculnya vulcanic neck atau bentuk intrusi yang lain.
Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur. Secara geologi pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, pelipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut –Barat Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus, arah Utara – Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur – Barat (E-W) disebut pola Jawa.
Pola Meratus di bagian barat dapat dilihat pada Sesar Cimandiri, di bagian tengah ditunjukkan dari pola penyebaran singkapan batuan pra-Tersier di daerah Karang Sambung. Sedangkan di bagian timur ditunjukkan oleh sesar pembatas Cekungan Pati, “Florence” timur, “Central Deep”. Cekungan Tuban dan juga tercermin dari pola konfigurasi Tinggian Karimun Jawa, Tinggian Bawean dan Tinggian Masalembo. Pola Meratus tampak lebih dominan ditunjukkan pada bagian timur.
Pola Sunda berarah Utara-Selatan, di bagian barat tampak lebih dominan sementara perkembangan ke arah timur tidak terlihat. Pola-pola ini antara lain pola sesar-sesar pembatas Cekungan Asri, Cekungan Sunda dan Cekungan Arjuna. Pola Sunda pada Umumnya berupa struktur regangan.
Pola Jawa di bagian barat diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beri-bis dan sesar-sesar dalam Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang terdapat pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan. Di bagian Timur ditunjukkan oleh arah sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik.
Dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola Meratus merupakan pola yang paling tua. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam jalur Tinggian Karimun Jawa menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat. Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda.

Akibat dari pola struktur dan persebaran tersebut dihasilkan cekungan-cekungan dengan pola yang tertentu pula. Cekungan Jawa Utara bagian barat dan Cekungan Jawa Utara bagian timur yang terpisahkan oleh tinggian Karimun Jawa.


Secara lebih terperinci, Dobby membagi Jawa dan Madura atas dasar bentuk permukaan buminya menjadi :
1. Pantai selatan yang merupakan dataran dari kapur
2. Daerah perbukitan di bagian tengah
3. Jalur gunung api yang menjadi sumbu Pulau Jawa
4. Jalur alluvial (endapan) yang memanjang dari Banten menuju Lembah Lusi-Solo sampai Selat Madura.
5. Pantai utara yang merupakan dataran dari kapur.

  Pantai Selatan
Dinding-dinding pantai selatan Jawa sangat curam. Karena ketika bagian selatan pulau Jawa terangkat pada Oligosen, gelombang laut selatan Jawa yang besar akan menghantam dinding pantai sehingga menjadi terjal. Gelombang pantai yang besar ini dikarenakan angin yang berhembus berasal dari laut lepas (Samudera Hindia).
Contohnya pada pantai Popoh di Tulung Agung. Pantai ini berhadapan langsung dengan laut lepas dan dinding pantainya sangat terjal. Pada pantai ini terdapat singkapan yang sangat bagus yaitu diantara lapisan batuan kapur tersisip suatu lapisan yang terdiri dari batuan pasir. Batuan ini merupakan hasil aktivitas vulkanik yang ada pada saat koral dan foraminifera mulai tumbuh pada Miosen bawah. Singkapan yang ada dibentuk oleh hantaman gelombang (abrasi) dari Samudera Hindia.
  Daerah Perbukitan
Barisan perbukitan dan jalur lembah-lembah adalah bentang alam tua yang sudah sangat terkikis. Di antara perbukitan itu terdapat suatu alur yang dibeberapa tempat merupakan cekungan, misalnya Bandung dan Garut. Sedangkan mengarah ke timur semakin melebar dan mulai terbuka serta melandai sampai sebagian tenggelam di Selat Madura. Ketinggian endapan di daerah ini menurut Dobby sampai mencapai kira-kira 1200 m, dan membentuk bagian dari susunan dataran tinggi di Pulau Jawa. Di bagian selatan barisan perbukitan ini ada yang mencapai pantai sebagai tebing pantai yang curam. Hanya dibeberapa tempat dikatakan bahwa tanah tinggi itu mundur dari pantai, misalnya di dataran rendah Banyumas. 
  Jalur Gunung Api
Sumbu jalur rangkaian gunung api terletak di pedalaman. Sebagai perkecualian adalah Gunung Karang di Banten dan Gunung Muria di dekat Jepara. Kedua gunung api tersebut terletak di luar jalur umum. Di Jawa Barat rangkaian gunung api merupakan lengkungan melingkupi cekungan Bandung dan cekungan Garut, yang pada masa dahulu pernah tergenang menjadi danau. Keadaan yang mirip terdapat di Jawa Timur. Di sini pun gunung-gunung api membentuk kumpulan yang bersambung. Gunung-gunung api di Jawa Tengah agak berbeda dengan di Jawa Barat dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah, gunung-gunung api hanya mengelompok dalam dua atau tiga saja, dipisahkan oleh dataran tinggi endapan.
Kebanyakan gunung api tersebar pada jalur tengah. Bahan-bahan ejektanya menyebar ke berbagai tempat. Menurut Dobby, hanya gunung api di Banten Selatan yang mengeluarkan lava asam. Karena itu kesuburan daerah ini agak rendah bila dibandingkan dengan daerah lainnya di Jawa Barat.


  •   Jalur Alluvial Utara
    Endapan ini terbentuk oleh sungai yang membawa bahan ejekta gunung api. Karena itu, dataran ini umumnya cukup subur. Jalur endapan ini menurut Dobby terbagi atas dua bagian : (1) bagian yang sebelah dalam, yang lebih dekat ke pegunungan, dibatasi oleh teras-teras yang hampir sejajar dengan garis pantai; (2) bagian luar merupakan dataran yang tingginya <>

            Pantai Kapur Utara

            Pantai utara Jawa merupakan daerah yang relatif tandus karena di sana terdapat alur          pegunungan kapur utara. Pantai kapur ini terutama terdapat di daerah Rembang dan        Madura. Di pantai Rembang-Bojonegoro dataran endapannya sempit dan pantainya mempunyai tebing agak curam, dibeberapa daerah melebihi 30 m. Di Madura tepian kapur ini tidak merata.

  • Physiographic Zones of Java and Madura menurut Van Bemmelen (1949- 1970) : 

  • Legends of The Physiographic Zones : 1. Quaternary Volcanoes 2. Alluvial Plains of Northern Java 3. Rembang Madura Anticlinorium 4. Bogor, North Serayu, and Kendeng Anticlinorium 5. Domes and Ridges in the Central Depression Zone 6. Central Depression Zone of Java and Randublatung Zone 7. Southern Mountains • JAWA BARAT A. BANTEN 1. Dataran yang rendah di bagian utara   Muncul vulkan (gunung Gede) di barat laut dengan pelabuhan Merak di kaki vulkan di bagian barat dan komplek danau dengan puncak Gunung Karang dan Gunung Pulasari.  Gunung api (vulkan) tersebut merupakan kelanjutan (sambungan) dari volkan di selat Sunda (Krakatau, Sebesi, Sebuku, Sangiang) dan Gunung Betung, Ratai, Rajabasa di Sumatera (Lampung).  Dataran tersebut tertutup oleh tuff dan batu apung yang merupakan produk dari letusan vulkan di selat sunda selama kala pliopleistosin.
  • 2. Semenanjung Ujung Kulon dan Honje Ridge di tenggara Banten  Keduanya terpisah dari Jawa oleh laut pada pleistosin dan merupakan bagian ujung bagian selatan bukit barisan.  Ujung Kulon berhubungan dengan teluk Semangko namun saat ini telah mengalami penurunan di bagian tengah sampai 1000 m di bawah laut dan terpisah karena kenaikan permukaan air pada pleistosin.  Honje Ridge merupakan bentuk uplift dan bagian dari transisi geosinklinal sumatera bagian timur dan Jawa bagian utara. 3. Dataran rendah di timur laut Banten, utara Bajah dome, dan timur komplek danau. Yaitu berupa lapisan tersier muda yang terlipat, tuff kuarter dan timbunan/endapan alluvial. B. DATARAN BATAVIA  Berukuran lebar ± 40 km yang meluas dari Serang, Rangkas Bitung sampai Cirebon. Mengandung dalam jumlah besar endapan alluvial sungai dan lahar dari gunung api di bagian tengah.  Pada bagian tertentu terdapat sedimen marine tertier yang terlipat.  Pada bagian selatan berhubungan dengan komplek perbukitan yang membujur dari Jasinga (berbatasan dengan Banten) sampai sungai Pemali dan Bumiayu (Jawa Tengah). C. ZONE BOGOR  Pada bagian barat merupakan lapisan neogen yang terlipat kuat dengan beberapa hypabysal volcanic, stock yang muncul pada komplek sangga buana di bagian barat Purwakarta.  Bagian barat tersebut meluas ke timur yang dimahkotai oleh vulkan muda seperti Bukit Tunggul, Tampomas dan Ceremai.  Sabuk memanjang dari depresi antarpegunungan berupa lapisan tersier yang mempunyai lebar 20 km-40 km.  Membentang dari teluk pelabuhan Ratu, lembah Cimandiri (Sukabumi), dataran bagian atas Cianjur, Garut, lembah Citandui (Tasikmalaya) di bagian barat dan berakhir di segara anakan pada pantai selatan Jawa. D. ZONE BANDUNG  Merupakan suatu depresi dan secara struktural merupakan bagian puncak dari geantiklin Jawa yang mengalami patahan ke bawah setelah atau selama akhir tersier.  Batas antara zone Bandung dengan zone Bogor ditutup oleh gunung api kuarter (muda), yaitu Gunung Kendeng, Gagak, Salak, Gede, Pangrango, Komplek Sunda, Burangrang, Tangkuban Perahu, Bukit Tunggl, Calancang, Cakrabuana.  Batas antara zone Bandung dengan zone selatan (pegunungan) ditandai oleh seri gunung api Kendeng, Patuha, Tilu, Malabar, Papandayan, Cikurai.  Zone Bandung diisi sebagian oleh vulkan muda dan endapan alluvial tetapi pada bagian atas kadang-kadang diintrusi jajaran batuan tersier dan bukit-bukit.  Di bagian selatan berupa tanah rendah Citandui (Marsh), di bagian barat dekat Banjar berupa Swamp (lakbok) besar, dan jajaran pegunungan yang meluas dari Wonorejo ke arah tenggara sampai maos pada sungai Serayu. Jajaran pegunungan ini mengandung lapisan neogen bawah dan batuan volkanik. E. PEGUNUNGAN SELATAN  Dibentuk oleh lahan pegunungan Priangan Selatan, unit tersebut membujur teluk pelabuhan Ratu sampai pulau Nusa Kambangan.  Merupakan geantiklin Jawa bagian selatan dan merupakan blok-blok patahan yang bergeser ke arah selatan.  Dibedakan menjadi 3 bagian : 1. Di bagian barat (Jampang)  Merupakan permukaan erosional yang muncul secara gradual dari lautan India sampai ketinggian 1000 m berupa breksi andesit yang terbentuk pada meosin atas, sekarang berupa volcanic neck.  Plato, dan puncak tertinggi pada plato tersebut adalah Gunung Malang (1300 m) yang merupakan sisa dari intrusi andesit zaman meosin berupa volcanic neck yang resisten. Plato tersebut selanjutnya patah ke bawah dan terbentuk patahan atau flexure sampai ke zone Bandung. 2. Bagian Tengah/Seksi Pangalengan  Merupakan daerah yang tinggi yang dimahkotai oleh beberapa vulkan (Gunung Kencana 2.182 m) dan selanjutnya patah ke bawah dengan membentuk patahan atau flexure ke zone Bandung.  Zone Transisi antara bagian tengah ini dengan zone Bandung (ada fault) ditandai oleh seri vulkan kuarter yang berhubungan dengan zone Bandung. 3. Bagian Timur (Seksi Karangnunggal)  Merupakan plato yang mempunyai ketinggian rendah (350-400 m) di atas permukaan laut.  Di sebelah selatan terdapat igir yang lebih tinggi yang merupakan sisa erosi permukaan.  Plato Karangnunggal terdiri dari batuan kapur berumur meosin yang mengalami sedikit pelipatan. Terdapat topografi karst dengan banyak kubah dan banyak sungai dengan lembah yang sempit.  Zone plato ini miring ke arah selatan dan bertambah sempit dan berakhir pada taji (spur) dekat lembah yang tenggelam yang memisahkannya dari Nusa Kambangan. Secara geomorfologis Jawa Barat terbagi menjadi : 1. Zone Selatan : Plato Jampang, Plato Bongga dan Plato Karangnunggal. 2. Zone Tengah (berupa depresi) : Dataran Tasikmalaya, Dataran Garut, Komplek pegunungan di barat Garut, Lipatan Rajamandala, Dataran Bandung, Dataran Cianjur-Sukabumi, Komplek Gunung Gede-Pangrango dan Sekton Banten. 3. Zone Utara Daerah Lipatan, Endapan Kipas, Jalur Peneplain, gunung Ceremai dan se-kitarnya, Komplek Tangkuban Perahu, Komplek pegunungan di Banten.   • JAWA TENGAH Jawa Tengah merupakan bagian yang sempit di antara bagian yang lain dari Pulau Jawa, garis pantai utara dan selatan wilayah ini lebih sempit masuk dibanding garis pantai utara dan selatan Jawa Barat dan Jawa Timur. Lebarnya pada arah utara-selatan sekitar 100 – 120 km. Daerah Jawa Tengah tersebut terbentuk oleh dua pegunungan yaitu Pegunungan Serayu Utara yang berbatasan dengan jalur Pegunungan Bogor di sebelah barat dan Pegunungan Kendeng di sebelah timur serta Pegunungan Serayu Selatan yang merupakan terusan dari Depresi Bandung di Jawa Barat. Jawa Tengah dibagi menjadi beberapa wilayah menurut bentang fisiografisnya, yaitu: 1. Dataran Pantai Bagian Utara  Mempunyai lebar maksimum 40 km di selatan Brebes dan di lembah Remali yang memisahkan Bogor Range dari pegunungan bagian utara Jawa tengah dan sedikit ke timur dengan lebar ± 20 km di selatan Tegal dan Pekalongan.  Antara Wereli dan Kaliwungu merupakan alluvial yang dibentuk oleh delta dari sungai Bodri.  Secara umum dataran pantai bagian utara Jawa Tengah merupakan endapan alluvial yang terbawa sungai yang bermuara di Laut Jawa. 2. North Serayu Range  Mempunyai lebar antara 30-50 km.  Pada bagian barat berupa volkan (G. Slamet) dan bagian timur ditutup oleh produk gunung api muda seperti Rogojembangan, komplek Dieng (G. Perahu dsb), G. Ungaran.  Garis batas dengan zone Bogor (Jawa Barat) merupakan garis lurus Prupuk-Bumiayu-Ajibarang. Dan berhubungan dengan Kendeng Ridge di Jawa Timur.  Antara bagian utara dan selatan Serayu Range terdapat depresi memanjang yang dinamakan zone Serayu yang sekarang adalah tempat-tempat di Majenang, Ajibarang, Purwokerto, Banjarnegara, Wonosobo.   Antara Purwokerto dan Banjarnegara dengan lebar ± 15 km.   Sebelah timur Wonosobo merupakan batasnya, berupa depresi yang sebagian diisi oleh gunung api muda Sindoro dan Sumbing, yang secara geografis merupakan dataran antarpegunungan Temanggung-Magelang. 3. South Serayu Range  Terbagi menjadi bagian barat dan timur.  Pada bagian barat merupakan elemen strukturak baru yang menyambung dengan Jawa Barat. Dengan Bogor Ringe (Zone Bogor) dipisahkan oleh dataran Majenang dan bagian atas yang lurus dari sungai pasir dan Cihaur.  Pada bagian timur merupakan Lembah Jatilawang yang dimulai dari dekat Ajibarang (merupakan antiklinorium yang sempit), yang selanjutnya terpotong oleh sungai Serayu.  Bagian barat Banyumas berupa antiklin, berkembang sebagai antiklinorium dengan lebar 30 km di Lukulo, Midangan (selatan Banjarnegara).  Pada ujung timur dibentuk oleh Dome Independen dari pegunungan Progo Barat, antara Purworejo dan sungai Progo. 4. Dataran Pantai Selatan Jawa Tengah  Lebar ± ±10-25 km.  Bentuk pantai bagian selatan ini kontras dengan bentuk pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Timur, lapisannya <10>

1 komentar:

Wah bagus sekali nih materinya. Tapi sayang kurang detail lagi di beberapa bagian wilayah. terutama wilayah dimana tempat saya tinggal yang merupakan perbatasan antara Bogor range dengan wilayah jawa tengah bagian barat (hehe. mulai dari Brebes hingga Pekalongan memutar ke selatan dari majenang hingga Banjarnegara. Terima kasih....

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More